Berawal dari Sebuah Pandangan (1)


Awan cumulonimbus telah menggantung, mendungpun berjalan menuju sudut kota. Ah, sial sekali hari ini aku. Jam telah menunjukkan pukul 16.15 . Seharusnya sepuluh menit yang lalu aku sudah sampai di kos. Namun, nampaknya jam kuliah kali ini rasanya lama sekali berlalu. Tak biasanya sabtu sore ada jam kuliah.

Akhirnya hujan pun turun mengguyur dengan derasnya.Kilat seakan tak mau kalah, ia sekan menunjukkan karismanya dengan kilatan kilatan diatas langit yang nampak sekilas. Langkahku terhenti di depan perpustakaan kampus. Nampaknya hujan semakin deras saja. Debitnya justru menambah tiap detiknya. “Ya Tuhan, bagaimana ini? Ini sudah jam 16.40 dan saya masih berada di kampus. Bagaimana tugas-tugasku yang terbuang sia-sia hanya karna hujan ini. –“

Akhirnya kuputuskan untuk menuju ke masjid sebelah barat fakultas ekonomi. Cukup dekat dari perpustakaan. Dengan berlari kecil aku meuju masjid tersebut. Hanya ada beberapa mahasiswa saja yang ada di dalam masjid tersebut. Tas dan buku-buku tebal yang slalu menemaniku setiap ada jam kuliah ku titipkan ke tempat penitipan. Setelah menitipkan tas, langkahku menuju ke tempat wudlu. Di sana ada beberapa mahasiswi dari berbagai fakultas sedang berwudlu, dan ada satu perempuan yang nampak tak asing bagiku, namun aku lupa siapa perempuan itu. Dan setelah aku selesai berwudlu dan membenarkan posisi jilbabku perempuan itu menepuk bahuku. “Hai !” sapanya padaku. “Huh,. Kau mengagetkanku,lisa.” Jawabku sekenanya.

Kemudian kami berjalan keluar dari tempat wudlu. Selesai sholat ashar aku dan Lisa berbincang-bincang tentang berbagai hal. Lisa adalah seorang muallaf. Tahun 2010 tepatnya ia resmi menjadi seorang muslimah. Terkadang ia memintaku untuk mengajarinya tentang islam. Dengan senang hati aku mengajarinya belajar tentang agama yang baru ia peluk.

Di Masjid kampus inilah terkadang aku dan Lisa mengaji bersama. Tak setiap hari, hanya waktu-waktu tertentu saja aku dan Lisa  mengaji bersama di masjid kampus ini. Namun, dari pintu masjid ada seorang laki-laki masuk dengan pakaian yang basah kuyup karna diluar sana hujan mengguyur dengan derasnya. Laki-laki itu nampak khusyuk sekali saat sholat. Aku sempat memandangi laki-laki itu sekilas. “Astaghfirullah.” Ucapku. “Ada apa ?” Tanya Lisa. “Tak apa.” Jawabku

Kemudian Lisa menengok ke arah laki-laki tersebut saat ia telah selesai sholat. “Din, lihat (menunjuk ke arah laki-laki tersebut) .” Ujarnya memberitahuku. “Mana??” jawabku singkat. “Itu,.. !” sambil menunjuk ke arah laki-laki tersebut. “Ooohh,.. Kenapa ? Kamu suka  dengannya ?.” Tanyaku. “Tidak, aku hanya kagum dengan ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan makhluk yang begitu indah sepertinya.”

Diluar dugaan, laki-laki itu nampak melangkahkan kakinya menuju ke arah kami berdua. Tanpa aku sadari jantungku berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya.
                “Assalamu alaikum,.” Ucap si lelaki.
                “Wa alaikum salam..”
                “Saya boleh tanya?” tanyanya
                “Boleh. Tanya apa ya?” ucap kami berdua menanggapinya.
                “Saya sedang mencari teman saya yang kuliah di kampus ini. Namun dari tadi saya mencarinya tidak juga bertemu dengan dia. Kita janjian di depan perpustakaan kampus, tapi sampai sekarang saya tak menemukan teman saya tersebut. Namanya Rizal Ardianta.” Terangnya.
                “Kalau boleh tahu, fakultas apa, mas?” Jawabku sekenanya.

“Hmmmm,.. Fa..Kul.. Oh iya Fakultas Kedokteran.”
     “Ooohh,. Kalau tidak salah hari ini fakultas kedokteran tidak ada jadwal kuliah deh. Setahu aku.”
     “Tapi kata dia tadi jam 15.45 ia baru pulang dari kuliah.”
     “Mungkin saja saya juga salah mas. Soalnya jarak antara fakultas saya dengan fakultas kedokteran cukup jauh. Mungkin, teman mas tadi sudah menunggu mas di depan perpustakaan , tapi mas gak datang-datang sedangkan dia ada acara mendadak bisa juga kan?”
    “Mungkin saja sih,mbak. Oh, ya sudah. Terima kasih mbak sebelumnya.”
    “Iyaa sama-sama.”
    “Perkenalkan nama saya Rayhan.”

Kemudian Lisa mencoba mengajak berjabat tangan dengan Rayhan,namun Rayhan menolaknya.
    “Saya Lisa, dan ini teman saya Dina.” Jawab Lisa (senyum)
    “Ya sudah, saya pamit dulu. Assalamu alaikum.”
    “Wa alaikum salam.” Jawab kami menjawabi salamnya.


Bayangan laki-laki itu berlalu begitu saja meninggalkan masjid kampus ini. Punggungnya semakin menghilang mengikuti langkahnya, dan sampai akhirnya laki-laki itu benar-benar hilang dari pandangan mataku. Sekitar pukul 17.05 hujan mulai mereda. Akhirnya aku dan Lisa memutuskan untuk menuju ke halte bus depan kampus. “Lis, ayo ke halte mumpung hujannya mulai reda.” Ajakku. “Ayo,lagipula sudah sore.” Jawabnya.

Sesampainya kami di halte bus depan kampus, hujan mengguyur lagi dengan derasnya. Untunglah selang beberapa menit kami sampai di halte, ada bus datang jurusan ke kosanku. Di halte bus itulah aku berpisah dengan Lisa.  Sekitar tiga puluh menit lamanya untuk menuju ke kosanku dari kampus. Pukul 18.17 aku baru sampai di kos. “Kok baru pulang,din?” tanya Tania. “Iya, tadi kejebak hujan di kampus.” Jawabku.

Kemudian aku langsung menuju ke kamar. “Ah, lelah sekali rasanya hari ini. Apa kabar tugas-tugas ku yang masih belum tersentuh sama sekali.” Tiba-tiba laki-laki itu, iya Rayhan. Bayangnya tiba-tiba memenuhi benakku. Apa-apaan ini. Baru tadi sore aku melihatnya dan mengenalnya, dan sekarang aku terbayang-bayang dengan wajahnya. Apa mungkin aku mulai menaruh rasa padanya?? Kilat sekali rasanya. Lalu, bagaimana dengan Lisa? Sepertinya ia juga menaruh perhatian lebih terhadapnya. Entahlah, jika benar ini rasa suka, biarkan tumbuh dengan sendirinya. Biarkan rasa ini berkembang setiap harinya. Hingga suatu saat nanti aku akan menyadarinya bahwa aku memang benar-benar mempunyai rasa terhadapnya.

Komentar

Postingan Populer